Pages


11.21.2011

laporan praktikum penentuan kadar protein metode biuret


V.1 HASIL PENGAMATAN
1.      TELUR PUYUH
BJ = 0,991 mg/ml
VOLUME BSA
( mL)
KONSENTRASI
( X )
ABSORBANSI
( Y )
0
0
0
0,1
0,125
0,010
0,2
0,25
0,08
0,4
0,5
0,033
0,6
0,75
0,049
0,8
1
0,052
1
1,25
0,076
r2 = 0,98
y = 0,0782x + 0,0023
KONSENTRASI
ABSORBANSI
% KADAR PROTEIN
2,771
0,214
2,69 %
2,630
0,208
2,60 %
2,656
0,210
2,63 %
2,643
0,209
2,62 %
2,566
0,203
2,54 %

2.      TELUR AYAM
BJ = 0,9862
VOLUME BSA
( mL)
KONSENTRASI
( X )
ABSORBANSI
( Y )
0
0
0
0,1
0,125
0,01
0,2
0,25
0,029
0,4
0,5
0,058
0,6
0,75
0,064
0,8
1
0,079
1
1,25
0,095

KONSENTRASI
ABSORBANSI
% KADAR PROTEIN
1,85
0,144
1,82 %
1,65
0,129
1,63 %
1,65
0,129
1,63 %
1,77
0,138
1,75 %
1,60
0,125
1,58 %

V.2 PEMBAHASAN
Protein merupakan salah satu unsure makro yang terdapat pada bahan pangan selain lemak dan karbohidrat. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsure- unsure C, H, O dan N dalam ikatan kimianya. Molekul protein juga mengandung fosfor, belerang dan ada beberapa jenis protein yang mengandung tembaga ( Winarno, 1984 ). Protein sangat mudah mengalami perubahan fisis maupun aktivitas biologis yang disebabkan oleh kandungan protein berupa polipeptida dengan BM ( berat molekul ) yang beragam.
Fungsi utama protein dalam tubuh adalah sebagai zat pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada agar tidak mudah rusak. Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak dapat terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga berperan dalam pengaturan proses dalam tubuh ( secara langsung maupun tidak langsung ).  Dengan cara mengatur zat-zat pengatur proses dalam tubuh, protein dapat mengatur keseimbangan cairan dalam jarngan dan pembuluh darah, yaitu dengan cara menimbulkan tekanan osmotik koloid. Tekanan osmotic tersebut dapat menarik cairan jaringan kedalam pembuluh darah. Selain itu, sifat amfoter protein yang dapat bereaksi dengan asam dan basa, dapat mengatur keseimbangan asam basa dalam tubuh.
Protein dapat mengalami perubahan- perubahan yang disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1.      Dapat terdenaturasi yang disebabkan oleh perlakuan pemanasan. Pada umumnya protein akan terdenaturasi karena adanya kondisi ekstrim.
2.      Dapat terkoagulasi atau membentuk endapan yang disebabkan oleh adanya perlakuan pengasaman.
3.      Dapat mengalami dekomposisi atau pemecahan oleh enzim- enzim proteolitik.
4.      Dapat bereaksi dengan gula reduksi. Reaksi tersebut akan menimbulkan terbentuknya warna cokelat.
Analisis protein dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Analisis protein secara kualitatif adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya protein dalam suatu bahan pangan. Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida dan reaksi Sakaguchi. Sedangkan analisis protein secara kuantitatif adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui kadar protein dalam suatu bahan pangan. Analisi kuantitatif protein dapat dilakukan dengan metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret) dan metode spektrofotometri UV.
Pada praktikum kali ini, akan dilakukan analisis kuantitatif protein terhadap sampel telur puyuh dan telura ayam dengan menggunakan metode spektrofotometri visible ( Biuret ). Spektorofotometri merupakan teknik analisis yang bertujuan untuk mengetahu jumlah ( konsentrasi) zat dalam suatu bahan berdasarkan spektroskopi khusus untuk panjang gelombang UV Visible dan Infra Red. Pengertian spektroskopi sendiri adalah istilah atau nama yang digunakan untuk ilmu ( secara teori ) yang mempelajari tentang hubungan antara radiasi/ sinar/ energy ( yang memiliki fungsi panjang gelombang yang biasa disebut dengan frekuensi ) dengan benda.
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Metode ini dapat digunakan untuk sampel yang berupa larutan berwarna atau tidak berwarna, karena pada umumnya suatu alat spektrofotometri dilengkapi sumber cahaya untuk mengukur spectrum panjang gelombang pada daerah tertentu.
P0
c
b

P

Gambar.1. Tabung berisi larutan
c          = konsentrasi larutan
b          = panjang larutan yang dilalui sinar
P          = Sinar yang diteruskan
P0         = Sinar yang masuk

Jumlah sinar yang diserap atau diteruskan oleh suatu larutan adalah merupakan suatu fungsi eksponensial dari konsentrasi larutan dan panjang larutan yang dilalui sinar. Pada dasarnya spektrofotometer bekerja sebagai berikut :










Prinsip kerja penentuan kadar protein dengan metode biuret adalah menganalisis adanya ikatan peptida dengan cara menambahkan reagen biuret kedalam sample yang kemudian di ukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer.

 


Pada dasarnya suatu peptida adalah asil-asam amino, karena gugus –COOH dan –NH2 membentuk ikatan peptida. Peptida didapatkan dari hidrolisis protein yang tidak sempurna. Apabila peptida yang dihasilkan dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan asam-asam amino. (Anna Poedjiadi, 1994). 
Sifat peptida ditentukan oleh gugus –COOH, –NH2 dan gugus R. Sifat asam dan basa pada peptida ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2 , namun pada rantai panjang gugus –COOH dan –NH2  yang terletak diujung rantai tidak lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isolistrik seperti pada asam amino. Reaksi biuret merupakan reaksi warna untuk peptida dan protein. (Anna Poedjiadi, 1994).
Dalam praktikum kali ini, ada dua praktikum yang harus dilakukan yaitu preparasi sampel dan pembuatan kurva standar. Pada pembuatan kurva standar, sampel yang digunakan adalah BSA. BSA adalah Bovin Serum Albumin. Menurut literature, 1 ml BSA mengandung protein sekitar 5 mg. Hal tersebut menjadi dasar dalam pembuatan kurva standar. BSA dimasukkan kedalam tabung berbeda dengan volume 0; 0,1; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1. Setelah BSA dimasukkan kedalam tabung, tambahkan akuades kedalam tabung hingga volumenya mencapai 4 ml kemudian ditambahkan lagi dengan 6 ml Biuret. Sampel tersebut kemudian dimasukkan pada waterbath bersuhu 370 C selama 20 menit hingga warnanya berubah menjadi ungu sempurna. Setelah 20 menit, sampel diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm.
Pada preparasi sampel, langkah yang harus dilakukan adalah memasukkan 5 gram sampel kedalam labu 50 ml lalu diencerkan dengan cara menambahkan akuades hingga tanda batas. Diambil 0,5 ml sampel yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam tabung yang selanjutnya ditambahkan dengan 6 ml Biuret. Setelah larutan biuret ditambahkan kedalam tabung, sampel dimasukkan kedalam waterbath bersuhu 370 C selama 20 menit hingga warnanya berubah menjadi ungu sempurna. Setelah 20 menit, masukkan sampel kedalam kuvet. Diusahakan agar sampel yang masuk tidak membentuk gelembung. Kuvet yang telah diisi oleh sampel, dapat diuji absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV- visible pada panjang gelombang 540 nm.
Setelah melakukan prosedur praktikum tersebut, dihasilkan data praktikum pada table sebagai berikut:
VOLUME BSA
( mL)
KONSENTRASI
( X )
ABSORBANSI
( Y )
0
0
0
0,1
0,125
0,010
0,2
0,25
0,08
0,4
0,5
0,033
0,6
0,75
0,049
0,8
1
0,052
1
1,25
0,076
( Hasil Praktikum Penetapan Kurva Standar Sampel Telur Puyuh )
VOLUME BSA
( mL)
KONSENTRASI
( X )
ABSORBANSI
( Y )
0
0
0
0,1
0,125
0,01
0,2
0,25
0,029
0,4
0,5
0,058
0,6
0,75
0,064
0,8
1
0,079
1
1,25
0,095
( Hasil Praktikum Penetapan Kurva Standar Sampel Telur Ayam )
Dikarenakan adanya kesalahan yang dilakukan oleh praktikan ketika membaca absorbansi BSA pada spektrofotometer ( absorbansi pada konsentrasi 0,25 terlalu tinggi ), maka untuk menentukan kurva standar data yang digunakan berasal dari kelas sebelumnya. Kemungkinan penyebab kesalahan tersebut adalah adanya konsentrasi NH4+ yang tinggi sehingga reaksi dapat terganggu.
VOLUME BSA
( mL)
KONSENTRASI
( X )
ABSORBANSI
( Y )
0
0
0
0,1
0,125
0,011
0,2
0,25
0,021
0,4
0,5
0,041
0,6
0,75
0,071
0,8
1
0,081
1
1,25
0,094
( Hasil Praktikum Penetapan Kurva Standar Kelas A )
Dari data tersebut, dapat dihasilkan persamaan linear yang dapat digunakan untuk mencari konsentrasi suatu sampel. Konsentrasi yang telah diketahui akan digunakan untuk mencari kadar protein dalam sampel dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
% Protein =  x FP x BJ x 100%
Dimana BJ =
Setelah melakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan linear y = 0,0782x + 0,023 kemudian konsentrasinya diaplikasikan kedalam rumus, berikut adalah hasil perhitungannya:
KONSENTRASI
ABSORBANSI
% KADAR PROTEIN
2,771
0,214
2,69 %
2,630
0,208
2,60 %
2,656
0,210
2,63 %
2,643
0,209
2,62 %
2,566
0,203
2,54 %
( Hasil Praktikum Preparasi Sampel Telur Puyuh )

KONSENTRASI
ABSORBANSI
% KADAR PROTEIN
1,85
0,144
1,82 %
1,65
0,129
1,63 %
1,65
0,129
1,63 %
1,77
0,138
1,75 %
1,60
0,125
1,58 %
( Hasil Praktikum Preparasi Sampel Telur Ayam )
Apabila membandingkan hasil praktikum dengan literature didapatkan hasil yang tidak berbeda jauh. Menurut literature, kadar protein dalam telur puyuh adalah 2,72 %. Apabila melihat dan membandingkannya maka kadar protein yang paling mendekati adalah pengujian sampel telur puyuh pada konsentrasi 2,771 dengan absorbansi 0,214. Berdasarkan data diatas, dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu sampel, maka absorbansi yang dihasilkan dalam pengukuran pun semakin besar.
( Grafik Sampel Telur Puyuh )
( Grafik Sampel Telur Ayam )
Grafik diatas bertujuan untuk membandingkan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasinya. Menurut literature, semakin tinggi nilai absorbansinya maka konsentrasinya pun akan semakin tinggi. Pada sampel telur puyuh, didapatkan bahwa garis pada grafik hampir mendekati linier. Hal tersebut dapat dilihat dari konsentrasi 2,770 yang memiliki nilai absorbansi 0,214. Kemungkinan dengan konsentrasi 2,770 absorbansi yang dihasilkan dapat melebihi 0,214 ( agar garis yang terbentu linier ). Sedangkan pada sampel telur ayam, garis yang dihasilkan linier. Kemungkinan penyebab kesalahan tersebut adalah adanya kesalahan praktikan dalam membaca nilai absorbansinya.
Selain itu, kesalahan- kesalahan tersebut mungkin diakibatkan oleh kelemahan dari metode Biuret seperti sifatnya yang kurang sensitive dibandingkan dengan metode Lowry serta NH4+ dalam konsentrasi tinggi dapat mengganggu reaksi antara larutan Biuret dengan sampel.



VI.  KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada sampel telur puyuh, garis pada grafiknya hampir mendekati linier. Hal tersebut dapat dilihat dari konsentrasi 2,770 yang memiliki nilai absorbansi 0,214. Kemungkinan dengan konsentrasi 2,770 absorbansi yang dihasilkan dapat melebihi 0,214 ( agar garis yang terbentu linier ). Sedangkan pada sampel telur ayam, garis yang dihasilkan linier. Kemungkinan penyebab kesalahan tersebut adalah adanya kesalahan praktikan dalam membaca nilai absorbansinya. Selain itu, apabila membandingkan antara kadar protein pada telur puyuh dan telur ayam, telur puyuh memiliki kadar protein yang lebih tinggi.


DAFTAR PUSTAKA
Anonima .2011. Analisis Protein. http://hobiikan.blogspot.com/2011/10/analisis-pakan-analisis-protein.html diakses pada 11 Mei 2011.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1989. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Penerbit Bharta : Jakarta.
Lehninger.A.L, 1995. Dasar-Dasar Biokimia. Erlangga: Jakarta 
Winarno, F. G., 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia: Jakarta. 
Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta. 

1 comment:

Anonymous said...

siipp